Tuesday, June 16, 2015

Hiatus

Januari lalu, terakhir saya menengok blog ini. Kemana saja saya lima bulan ini. Apa kabar berat badan saya. Apa kabar minggu sore ini dan kemarin. Semakin hari saya semakin malas. Hanya bersenang-senang setiap hari.

Saya tidak kemana-mana, hanya lebih banyak menikmati Palembang di malam hari. Berat badan saya turun, padahal saya banyak makan. Mungkin karena sering tidur terlalu larut. Lalu siangnya tertidur di kantor.

Lima bulan ini, apa saya tidak melakukan sesuatu pun? Atau justru saya terlalu sibuk sampai-sampai waktu terasa berlalu cepat? Saya pulang menengok kabar ayah dan ibu. Saya membeli sepeda baru. Saya berlibur ke Jogja. Saya menyusuri jalanan Palembang di malam hari. Saya datang ke pernikahan salah satu teman baik saya. Saya tertabrak motor, memaksa saya absen berenang dan bersepeda selama dua bulan karena kaki yang belum pulih. Saya pindah ke kontrakan baru. Saya masih rutin makan es krim. Banyak hal. Saya sibuk.

Sepertinya saya berubah, menjadi lebih egois, sesuka hati sendiri. Padahal saya sedang semangat ingin menjadi orang yang lebih peduli, lebih peka. Mungkin motivasi saya yang salah. Malah membuat lelah. Sepertinya saya hanya butuh istirahat. Jeda. :)

Saturday, January 3, 2015

Bye, December!!

Ujung tahun, sepertinya bukan suatu yang perlu diistimewakan. Acara musik di TV yang membosankan, jalanan di luar yang kelewat ramai, dan acara-acara malam yang kadang terkesan dipaksakan. Bagi saya, tahun baru itu masih sekedar tentang besok-libur dan besok-berganti-kalender. Yah, saya suka melihat kembang api, tapi telinga saya juga gatal mendengar suara nyaring knalpot motor.

Meninggalkan Desember, saya suka memutar kembali memori saya selama setahun. Banyak bertemu orang baru, banyak rezeki, banyak hal menyenangkan.

Tahun 2014 dimulai dengan menghabiskan akhir Januari di kampung nelayan di Pulau Pahawang. Saya seperti sedang melepas dahaga setelah lama tidak menyapa laut. Dan saat itu menjadi kali pertama saya menjatuhkan hati pada laut Lampung.

Di bulan April ada momen pindahan rumah yang menjadi salah satu masa kritis saya dan teman-teman sekontrakan. Saya harus merogoh kantong sedikit dalam untuk mengisi rumah yang kosong. Bahkan untuk belanja ke pasar saja kami begitu menghemat. Papa Ulfa datang di saat kering, membantu kami berbenah rumah dan menyelamatkan kami dari persediaan makanan yang menipis. Terima kasih Om, rendangnya enak sekali.

Tengah tahun, saya dan kawan-kawan menyempatkan bermain bersama adik-adik yang kurang beruntung di salah satu sudut kota Palembang. Menyenangkan, ternyata. Setidaknya dapat membukakan sebelah mata saya yang tertutup bahwa saya punya banyak sekali keluarga.

Lalu saya bertemu dengan bulan Ramadhan, sebagai Ramadhan pertama saya di Pulau Sumatera. Dan menjelang lebaran, saya mulai disibukkan dengan pikiran-pikiran rindu kampung halaman, menempelkan hitungan hari menjelang lebaran di dinding ruang tengah. Sebagai efek kali pertama mudik, sayur bening buatan ibu tak pernah sesegar ini sebelumnya. Seperti ini ya, Bu, rasanya merantau, saya menjadi lebih menghargai waktu bersama Ibu, saya menjadi ingin selalu mengiyakan kata-kata ayah, dan saya menjadi lebih cengeng mendengar kata rindu.

Masih di sela-sela libur lebaran, saya menyempatkan diri menghabiskan waktu bersama teman-teman dekat SMA saya di tepi laut. Meskipun cuaca masih belum berkawan dengan kami, tapi cukup untuk sekedar melepas rindu. Baiklah, saya sudah mengulang ini berkali-kali, tapi sungguh, tepi laut dan kawan lama adalah kompilasi yang tidak pernah membosankan.

Di bulan Agustus, saya kembali ke Palembang, kembali ke rutinitas. Saya tidak pernah mengutuk pekerjaan saya, tapi kembali berkutat dengan layar komputer setelah liburan itu rasanya seperti ingin membeli sebuah pulau pribadi dan meletakkannya di samping kantor saya. Beruntungnya, saya 'diseret' beberapa teman baru di kantor saya untuk sejenak membuang penat ke laut. Hanya sekedar berenang di laut, tapi cukup ampuh menghilangkan energi negatif saya di kantor.

Dalam almanak pribadi saya, tahun 2014 menjadi sebuah masa transisi. Saya mulai memberi ruang lebih luas pada pendapat-pendapat orang, memberi toleransi lebih pada selisih warna antara saya dan rekan. Di tahun ini saya juga mulai memakai jilbab, tidak lepas dari doa kawan-kawan baik saya. Terima kasih. Hehehe.

Tahun 2014 ditutup dengan mengantongi cerita tentang mengejar lumba-lumba di Teluk Kiluan, berenang di laguna bersama kawan-kawan baru, dan bermain dengan anak-anak di kampung nelayan. Sederhana sekali. Tidak ada kapal pesiar yang dulu pernah saya bayangkan. Hanya ada perahu cadik tak beratap yang mengantarkan saya ke pulau kecil di seberang. Tidak ada penginapan mewah di atas air. Hanya ada rumah sempit penduduk yang terbuat dari kayu tipis. Tidak ada minuman buah tropis dengan gelas bening. Yang ada hanya kelapa muda yang dipetik dari kebun sebelah rumah. Bagi saya, itu sudah cukup membuat Desember saya menyenangkan.

Ujung Tahun di Kiluan

Oke, sampai jumpa Desember. Salam manis dari saya. Saya masih menunggu banyak hal ajaib di tahun yang baru. Selamat bahagia di tahun 2015!




Tuesday, December 23, 2014

Hi, December!

Menyebut Desember, apalagi kalau bukan tentang hujan. Terjebak hujan di toko pinggir jalan, tertidur dengan suara hujan, hingga berjalan berjingkat menghindari genangan air bekas hujan tadi malam.

Malam ini seperti otomatis saya memutar lagu "Desember" milik Efek Rumah Kaca, dengan backsound suara hujan. Ah, belum sampai di akhir lagu, saya sudah tertidur pulas.

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Dibalik awan hitam
Smoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda
Aku selalu suka sehabis hujan di bulan
desember,
Di bulan desember
Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka

Monday, December 1, 2014

Lagu Wajib Pengantar Tidur

Sejak lagu ini dikirim oleh teman dekat saya melalui pesan Whatsapp beberapa hari yang lalu, sejak itu juga playlist saya menjadi monoton hanya berisi lagu ini saja. Hahaha.

Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
Tatkala harus berpapasan ditengah
pelariannya
Di malam hari
Menuju pagi
Sedikit cemas
Banyak rindunya

Untuk Perempuan yang sedang dalam Pelukan - Payung Teduh

Saturday, October 18, 2014

Petrichor

13.29
Setelah sangat lama, akhirnya hujan turun. Yeah. Saya suka sekali aroma tanah kering yang beradu dengan air hujan. Seperti menutup dahaga yang sudah terlalu panjang. Segar.

Hari ini, saat saya tengah asyik dengan kudapan-kudapan siang, rumah kontrakan saya diguyur hujan. Deras. Hujan yang sudah kami tunggu untuk membersihkan udara kami, yang akhir-akhir ini lebih akrab dengan kabut asap dan debu jalanan.

Sebentar lagi, rumput liar di halaman depan akan memanjang, menyaingi rumput di samping rumah yang 3 bulan ini terairi oleh kran kami yang bocor.
Sebentar lagi, pohon meranggas milik tetangga depan rumah akan menghijau kembali.
Dan, sebentar lagi, jalan berpaving di depan rumah akan lebih ramah tanpa debu jalanan.

Selamat datang, sore hari yang segar.

*Kalau membaca tulisan ini, teman dekat saya, Gussita, pasti akan mengolok-olok kalimat terakhir saya. Tapi saya yakin, kalau dia ada di sini, pasti akan keluar kalimat-kalimat lebih alay dan tidak berguna dari dia.