Showing posts with label flashback. Show all posts
Showing posts with label flashback. Show all posts

Monday, June 30, 2014

Selamat pagi, Pagi!

Bantu saya untuk menyugesti diri sendiri. Mengapa pagi menjadi tidak semenarik dulu. Saya sudah tidak lagi tergoda dengan udara pagi. Bahkan saya tidak lagi melirikkan mata ke arah timur setiap saya bangun dan bersiap untuk beraktivitas. Rumah kontrakan saya kurang ramah dengan pagi, lebih sering membuat saya malas-malasan di kasur daripada berjalan keluar mengisi ulang paru-paru dengan udara rendah polusi.

"Mbak Mimin, masih ingat tidak, setiap kita membuka pintu lab di lantai 3 kampus di pagi hari, tidak ada yang menarik selain suara berisik burung-burung yang berkicau di atas pohon. Rasanya menyebalkan bukan, tidak bisa merasakan lagi skenario pagi yang satu itu?"

"Mbak Mita, masih ingat rasanya keluar tenda di pagi hari di tepian laut? Ah, Mbak Mita pasti tidak pernah lupa. Itu skenario pagi yang membuat aku malas kembali ke rutinitas kuliah. Pasir pantai itu antagonis, Mbak. Membuat aku malas beraktivitas. Tidak produktif."

"Rayung, aku yakin suasana fajar di tepi pantai dengan latar perahu nelayan itu tidak mudah terhapus dari ingatan. Langit yang masih merah. Aku suka. Menarik, bukan? Atau kau lebih suka skenario pagi di pasar seni Bali? Berjalan melihat-lihat barang kerajinan yang dijual dengan harga murah. Kalau memang sudah tidak ada lagi skenario pagi yang menarik, kita masih punya simpanan skenario siang yang asyik. Yuk, Yung, kita bertemu di Taman Sulawesi, untuk menikmati siang yang manis, sembari makan eskrim murah Paddle Pop."


Thursday, April 24, 2014

Batu dan Air

Malam hari di tahun 2013, di akhir musim penghujan. Hanya ada saya dan Ibu.

Saya : Tidak selalu di balik gunung, Ibu, bisa di pesisir pantai.
Ibu    : Iya..
Saya : Kalau hanya sekedar sinyal telepon, jaman sekarang sudah banyak yang bisa menembus daerah terpencil.
Ibu    : Iya..
Saya : Listrik tidak sesulit yang dibayangkan, Bu.
Ibu    : (hanya mengangguk)
Saya : Bolehkah?
Ibu    : Maaf, Kak. Tidak.
Saya : Hanya satu tahun, Ibu. Setelah itu aku akan kembali ke rumah, dengan banyak sekali cerita yang menurutku akan menarik.
Ibu    : Masih banyak hal menarik selain disana, Kak.
Saya : Aku tidak masalah dengan hidup seperti itu, Bu. Aku akan bertahan.
Ibu    : (dengan suara lirih dan bergetar, saya hampir tidak bisa mendengarnya) Ibu yakin Kakak akan bertahan. Tapi Ibu tidak yakin apakah Ibu bisa bertahan, jika akhirnya Kakak masih berkeras pergi.

Lidah saya beku. Seperti ingin memaki diri saya sendiri. Ternyata saya terlampau egois.

Monday, December 30, 2013

Dua Bersaudara (Pantai Goa Cina dan Bajul Mati)

Gara-gara melihat foto ala prewed milik Fauzi dan Dini di Pantai Goa Cina, saya jadi ngiler ingin ke sana. Dengan berkedok menghadiri syukuran di rumah Arif, saya memutuskan untuk menyambangi pantai di ujung Kabupaten Malang itu bersama teman-teman kuliah. Bersepuluh, kami berangkat pukul 9 pagi dari rumah Arif. Pantai Goa Cina terletak di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing, memiliki arah yang hampir sama dengan Sendang Biru. Sepanjang jalan yang berkelok-kelok, mata kami disuguhi pemandangan yang cukup segar dibandingkan jajaran gedung tinggi yang berimpit di Surabaya. Mendekati pantai, kami bertemu dengan jalan berbatu yang naik turun sepanjang 900 meter. Dengan tidak memperhitungkan sejauh apa 900 meter itu, saya turun dari motor dan mencoba berjalan kaki. Baru 50 meter melangkah sudah membuat nafas saya tersengal. Ya sudahlah, dengan mengesampingkan gengsi, saya kembali naik ke boncengan motor salah satu teman saya dan duduk manis saja sepanjang jalan berbatu.

Sampai di Pantai Goa Cina, matahari sudah sangat tinggi. Cuaca terik, pasir putih, dan air laut yang bening, benar-benar favorit saya. Dengan berlatar batuan-batuan besar di tengah laut, kami menghabiskan waktu untuk berfoto. Batuan yang tampak hijau berlumut berjajar di sepanjang perbatasan pasir dan air laut. Dan, di bawah pohon kelapa, dengan semilir angin laut yang segar, ditemani keripik kentang dan minuman rasa buah, tepi laut menjadi sangat menarik.


Foto fultim, ki ke ka: saya, Hadi, Waba, Dani, Bayu dewe, Jimmi, Paundra, Arif, Mbak Atim, Mbak Mimin

Sepi dan bersih, saya suka

Goa Cina, panas sekali bukan?

Puas menjejaki pasir Pantai Goa Cina yang panas, kami beranjak ke tujuan berikutnya, Pantai Bajul Mati. Melewati jembatan Bajul Mati yang cukup terkenal, pantai berikutnya ditempuh dalam 30 menit saja. Kami segera menuju warung ikan bakar yang berderet di sepanjang pantai. Sialnya, dari sekian banyak warung, semuanya sedang kehabisan stok ikan. Sigh! Alhasil, kami hanya bisa memesan Indomie goreng dan nasi putih. Melas.

Bajul Mati memang tidak sebagus Goa Cina, tapi pantainya yang lebih landai membuat saya betah berlama-lama bermain air di sana. Waktu berjalan sangat cepat oleh kelakar teman-teman yang membuat perut saya kram menahan tertawa. Pasir pantai memang ajaib, bisa membuat Hadi dan Dani yang "alim" ikut ber-gangnam style bersama-sama di atasnya. Ada sedikit perasaan tidak rela saat harus membersihkan diri ketika matahari mulai merendah. Akhirnya, dengan ditemani gerimis di sore hari, iring-iringan motor kami pergi menjauhi pantai, menuju rumah Arif, untuk kembali ke aktivitas di Surabaya esok paginya.

Ini yang membuat saya menyukai tempat ini
Ya, pantai berpasir putih dan kawan lama adalah kompilasi yang tidak pernah membosankan. Dalam satuan memori, ada banyak hal di hari itu yang membuat saya selalu mengingat teman-teman saya. Dan, jika ada yang menuduh saya menyembunyikan celana Waba sore itu, "Percayalah Wab, aku tidak mungkin melakukan perbuatan sehina itu. Hahaha". Ah, saya jadi rindu berlibur dengan teman-teman lama. Yuk, keluarkan kamera (yang sepertinya sudah lama tidak terpakai) dan mulai berlibur!

Monday, November 11, 2013

Karena Bahagia itu (memang) Sederhana

"Bersepeda itu seperti berlari, tetapi lebih cepat. Menyenangkan. Saya bisa merasakan angin yang menyentuh kulit saya yang sedang berkeringat. Belum jelas bagaimana kaitannya, yang jelas saya suka."

Di pagi hari
Dengan tas ransel di punggung, saya mengayuh sepeda menerobos deretan mobil yang berjalan merayap memenuhi jalanan pagi hari, melewati jalanan kampus yang rindang, melaju perlahan di tepian danau kecil, dan mengayuh dengan hati-hati menghindari jalan paving kampus yang mulai rusak.

Di tengah hari
Di bawah sinar matahari yang membuat wajah saya semakin gelap, dengan keringat yang mulai mengalir, dan masih dengan tas ransel yang melekat di punggung, saya mengayuh sepeda dengan cepat menyusuri jalanan sekitaran kampus yang ramai.

Di sore hari
Dengan beban di pundak yang terasa lebih berat, saya melambatkan laju sepeda mengelilingi area kampus, sambil mencari penjual kudapan di sekitaran masjid, untuk mengganjal perut saya yang selalu lapar.

Di Palembang saya belum punya sepeda. Sepertinya sudah saatnya saya mengencangkan ikat pinggang dan mulai menabung untuk membeli sebuah sepeda :)

Friday, October 18, 2013

Pasir yang Adiktif

Tengah tahun di 2011, sebagai pelarian saya di tengah-tengah kerja praktek. 


Setelah berjam-jam duduk di kursi belakang mobil yang saya tumpangi, akhirnya saya sampai di Legian. Saat itu kantong saya masih berlabel mahasiswa kost-kostan, jadi saya harus memutar otak bagaimana agar biaya perjalanan ke Bali kali ini bisa ditekan. Beruntung saat sampai di Pelabuhan Ketapang saya bertemu dengan sebuah keluarga asli Bali yang akan pulang kampung. Kami hanya membayar sekian puluh ribu untuk tumpangan 3 orang. Sampai di Legian malam hari. Segera saya mencari penginapan murah berpedoman pada referensi yang saya kumpulkan dari internet.

Setelah sejenak meletakkan punggung ini di kasur penginapan, saya memutuskan untuk main ke pantai. Saya sudah sangat rindu dengan pasir Pantai Kuta. Saya kangen suasana Kuta di malam hari. Saya dan salah satu teman saya mulai menyusuri gang kecil Poppies Lane yang sangat ramai di malam hari. Hanya ada segelintir pribumi diantara ratusan warga asing yang berlalu-lalang. Kami tampak aneh dengan pakaian panjang dan jaket tebal diantara bule-bule yang berpakaian pendek dan tipis. Sepanjang jalan banyak yang menawari kami agar mampir ke kedai mushroom (semacam minuman memabukkan yang terbuat dari jamur) milik mereka. Tampaknya tawaran mereka hanya sekedar ledekan pada orang-orang cupu yang sedang lewat seperti kami.

Karena urusan perut, mampirlah kami ke KFC yang berada tepat di seberang pantai. Restoran ini menjadi opsi terakhir kami karena sulit mencari tempat makan halal di sekitaran pantai, terlebih di malam hari. Yang ada hanya bar-bar berisi penuh wisatawan asing yang sedang menikmati musik khas diskotik sambil minum-minum. Saya memilih meja terluar dari restoran untuk makan sambil menikmati suasana Kuta. Jalanan sangat ramai. Suara musik house yang dimainkan para disc jockey bercampur dimana-mana. Sedikit demi sedikit pengunjung pantai berkurang dan beralih ke bar-bar yang tampak semakin penuh sesak. Sebenarnya saya merasa sangat kikuk di tengah suasana ini. Saya tidak suka. Bahkan sedikit terselip rasa takut kalau terjadi apa-apa. Tapi saya mencoba tetap terlihat santai dengan penampilan saya yang "aneh" dari yang lain.

Malam sudah semakin larut. Pukul setengah 12. Segera saya menghabiskan sisa minuman soda saya untuk segera berjalan ke pantai. Menginjak pasir pantai, saya mencari tempat yang cukup dekat dengan batas air laut. Dengan hanya diterangi lampu-lampu di seberang jalan, saya duduk menikmati debur ombak yang terasa sangat dekat. Ya, saya hanya duduk dan tidak berbuat apa-apa, mengarahkan pandangan saya jauh ke lautan yang gelap. Sesekali saya menengok ke arah utara, melihat kembang api warna-warni sisa pesta para turis.

Sambil merasakan angin pantai yang semakin dingin, saya meletakkan punggung saya di atas pasir. Lelah di pundak seakan menumpuk ingin direbahkan sejenak. Saya sedikit sekali mengobrol dengan teman di samping saya yang rupanya ikut membaringkan badannya di pasir. Hanya sesekali terdengar suara obrolan kami, sisanya hanya suara musik bar dan deru ombak. Ah, saat-saat favorit saya, diam mendengarkan suara ombak di malam hari.

Pukul 12 malam suara musik dan ombak terdengar semakin sayup di telinga saya. Dan saya mulai tertidur. Beralaskan pasir Pantai Kuta, di bawah langit Kota Denpasar belahan selatan, ditemani suara debur ombak yang tidak pernah terputus, saya melepas lelah. Tak tahu berapa lama saya tertidur. Yang saya ingat, pantai sudah sangat sepi saat saya terbangun. Sambil mengembalikan kesadaran, saya membersihkan pasir-pasir yang menempel di jaket. Masih dengan angin yang bertiup kencang dan udara yang dingin, saya merapatkan kedua lengan dan segera beranjak untuk kembali ke penginapan.

Selama 4 hari di Bali, saya tidak absen mengunjungi Pantai Kuta setiap malam. Sama seperti malam sebelumnya, hanya memperhatikan aktivitas para turis asing, bersila di atas pasir, dan berbaring mendengarkan suara ombak. Kalau ada kesempatan lagi, saya masih mau mengulang momen-momen tidak penting itu. Mungkin di lain kesempatan, masih di pantai yang sama.

Tuesday, July 2, 2013

Sempu, I'm in Love

Sejak kecil saya adalah penggemar pantai. Karena belum banyak pantai yang saya kunjungi, sampai sekarang saya masih berkeinginan untuk menyambangi lebih banyak pantai. Saya juga lumayan terobsesi untuk mempunyai sebuah rumah kayu sederhana di tepi pantai. Bahkan kalau sedang sakaw ingin ke pantai, duduk lah saya di tepian kenjeran dengan ditemani secangkir kopi. Yaa..meskipun menurut saya kenjeran sangat jauh dari deskripsi sebuah pantai, tak apalah yang penting saya bisa melihat air laut.

Kalau ditanya di mana pantai favorit saya, yang muncul dalam pikiran saya adalah sebuah pantai tersembunyi di pulau Sempu, Segara anakan. Yap, saya sudah menjatuhkan hati saya di sana sejak pertama kali datang. Saya baru dua kali datang ke Segara Anakan, dan selalu ingin kembali ke sana. Karena hari ini saya kangen sekali dengan pantai di ujung selatan Kabupaten Malang ini, maka saya buat lah postingan ini. Sebenarnya saya sedikit merasa berdosa kalau bercerita tentang Sempu karena pulau ini adalah salah satu kawasan cagar alam yang tidak bisa sembarangan dikunjungi. Namun, anggaplah saya hanya bercerita tentang pengalaman jatuh cinta saya pada pulau ini. Hahaha. Sama saja. Menurut saya pribadi, tak apalah mengunjungi pulau ini kalau hanya sekedar ingin menikmati keindahannya, asal tidak sampai melakukan hal-hal berbau  vandalisme yang bisa membuat pulau ini tidak menarik lagi.
***

Sempu adalah sebuah pulau di Malang selatan yang dapat dicapai dengan menggunakan perahu motor selama 10 menit dari Pantai Sendang Biru. Setelah sampai di Pulau Sempu, untuk mencapai Pantai Segara Anakan masih harus melewati jalan setapak sepanjang 1,5 km di tengah hutan yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Saat musim kering, jalan bisa ditempuh dalam waktu 1-2 jam. Namun, akan diperlukan waktu 2 sampai 4 jam lebih lama jika ke sana saat musim hujan, bisa ditambahkan sendiri ya waktu tempuhnya. Waktu pertama kali ke sana bersama teman-teman saya (Mas Didi, Mas Rizki, Ima, Rosita, dan Mas Rudy) di awal tahun 2011, kebetulan di tengah-tengah musim hujan. Alhasil, kami membutuhkan waktu tak kurang dari 5 jam untuk sampai di Segara Anakan. Anggaplah saya berlebihan, tapi pada saat itu memang medannya sangat berat. Jalan di hutan sangat licin karena air hujan di tanah belum mengering. Belum lagi kubangan-kubangan air berwarna coklat yang menyembunyikan akar-akar pohon atau batuan karang di dalamnya. Kalau salah melangkah, bisa-bisa terpeleset atau bahkan terkena batu karang yang tajam di dalam kubangan. Sialnya, saya berkali-kali terpeleset sampai-sampai telapak kaki kanan saya robek kena goresan karang. Sebenarnya bisa si pakai sepatu biar lebih aman, tapi harus sepatu khusus mendaki. Kalau pakai sepatu sneakers biasa seperti saya, nasibnya pasti sama, harus bertelanjang kaki dengan sepatu penuh lumpur menggantung tak berguna. Keadaan tak akan bertambah parah kalau saya menyeberang tidak terlalu sore. Saat itu saya baru menyeberang pukul setengah 5, mau tak mau harus melewati hutan dengan sumber cahaya yang terbatas. Waktu itu kami hanya bawa 4 senter untuk 6 orang. Alhasil kami hanya bisa berjalan pelan-pelan dan memastikan tidak ada teman yang terpisah tanpa berpikir bahwa kami ada dalam hutan yang sama dengan gerombolan harimau yang bisa datang kapan saja. Tapi tenang saja, bertemu dengan harimau di sini adalah kejadian yang sangat langka.

Serius ya, berjalan di tengah hutan dalam kegelapan itu bukan hal yang mudah, menurut saya. Beban di pundak lumayan berat membawa bekal air tawar, tangan dan kaki penuh lumpur, dan tentu saja saya lapar. Perut hanya bisa diganjal dengan roti karena medan tidak memungkinkan untuk membuat makanan bahkan untuk sekedar memasak air. Sepanjang perjalanan saya berkali-kali berpikir, "What am I doing here?". Tapi ya sudahlah, saya sudah sejauh dan sekotor ini. Mau pulang pun rasanya tidak ikhlas.

Hal yang paling menarik dari perjalanan saya ke Segara Anakan adalah saat harus melewati tepian jurang rendah yang berbatasan langsung dengan laut. Sebelum mencapai pantai, saya harus berjalan melipir di jalanan kecil di pinggir laut yang sangat licin sepanjang 50 meter dengan berpegangan pada ranting dan akar pohon di sekitarnya. Kalau lengah sedikit, bisa terpeleset atau bahkan terjatuh. Beruntung jika jatuh langsung ke air, kalau ke batuan karang? Tapi keadaannya tak akan seseram itu kalau kita lewat di siang hari. Paling tidak kita bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan mata dan apa yang sedang kita pijak.

Setelah melewati bibir jurang yang cukup membuat nafas saya kembang kempis, sekitar pukul 10 malam akhirnya saya sampai di pantai untuk pertama kalinya. Perasaannya seperti apa ya, yang jelas saya lega, saya senang, saya lapar, dan saya kotor. Meskipun saya belum bisa melihat pantainya dengan jelas karena gelap, tapi saya sudah jingkrak-jingkrak ndeso hanya dengan mendengar suara ombak. Satu hal yang saya ingat malam itu adalah bintang di langit Sempu jauh lebih banyak daripada di Surabaya atau di rumah saya.

Sesampainya di pantai, kami langsung membangun tenda dan membuat api. Hanya api dari kompor kecil yang menghangatkan kami. Kalau mau bikin api unggun ya silakan, tapi harap bersihkan bekasnya dan bawa kayu bakar sendiri. Bagaimana pun juga, memotong kayu sembarangan di hutan adalah hal yang merusak. Dan lagi, kalau malas membereskan bekas api unggun, dosanya ditanggung sendiri ya.

Tengah malam hujan turun sangat deras sampai subuh. Suara hujan dan gemuruh ombak yang membuat bising malam itu justru seperti meninabobokan saya di atas pasir berlapis terpal yang dingin dan sangat tidak empuk. Perih di telapak kaki sampai tak terasa saking dinginnya. Saya cuma bisa meringkuk dan mengapitkan kedua tangan di ketiak yang hangat. Hahaha. Selang dua jam kemudian, saya terbangun karena baju saya basah kena air hujan. Bagian samping tenda bocor dan langsung merembes ke baju saya. Lumayan lah menambah efek dingin pada tidur saya malam itu.

Menjelang subuh saya terbangun, hanya bisa duduk menghindari air yang semakin banyak mengalir masuk. Setelah hujan mereda, saya keluar tenda untuk mengambil air wudu di laut. Saat itu untuk pertama kalinya saya melihat Segara Anakan tidak dalam keadaan gelap gulita. Saya cuma bisa bilang waw. Air lautnya bening. Pantai ini dan Samudra Hindia hanya dibatasi dengan batuan karang. Di sebelah kiri (maaf saya buta arah) terdapat lubang karang tempat dimana air dari samudra masuk ke laut yang terisolasi ini. Di sekeliling laut hanya ada bukit-bukit karang, tebing, serta hutan di belakang yang sebelumnya sudah saya lewati untuk mencapai pantai ini. Hanya ada warna hijau dan biru di depan mata saya. Tak ada listrik. Tak ada kamar mandi. Sumber air tawar pun sangat jauh dan keruh, terlebih saat musim hujan.

Lubang karang


Dengan naik ke tebing karang yang ada di sebelah kiri, kita bisa melihat Samudra Hindia yang luas dengan ombaknya yang besar. Kalau sedang beruntung bisa melihat gerombolan lumba-lumba berkejaran di laut lepas saat sore. Sayangnya saya kurang beruntung karena harus segera kembali sebelum kemalaman lagi di hutan. Ya...mungkin di kesempatan lain.

Samudra Hindia di balik Segara Anakan

Sebenarnya saya tak rela meninggalkan pantai ini mengingat harus melewati medan yang sama seperti saat berangkat, tapi bekal sudah habis dan saya merasa sangat kotor. Air laut tidak membantu banyak untuk menghilangkan gatal-gatal di badan. Maka pulanglah kami dengan bekal energi hanya dari mie instan. Perjalanan pulang bisa kami tempuh "hanya" dalam 3 jam saja. Cahaya terang memang benar-benar sangat membantu. Tangan kami mulai terampil berpegangan pada ranting pohon. Kaki kami juga sudah telaten untuk memilih tempat berpijak. Tapi yang jelas masih dengan badan yang penuh lumpur.

Eit, tapi lupakan semua cerita saya tentang perjalanan menuju Segara Anakan tadi jika kita ke sana saat musim kemarau. Medannya akan menjadi sangat ramah dan mudah dilewati, tak perlu susah-susah mencari ranting untuk pegangan atau mencari pijakan yang aman. Saat saya mengunjungi Sempu di musim kering, trek yang sama bisa ditempuh hanya dalam waktu 75 menit. Hanya dengan bermodal sendal jepit saya bisa mencapai pantai dengan pakaian masih rapi dan bersih. Tidak ada lagi jalanan yang licin dan mendebarkan. Sama mudahnya dengan berjalan di Tunjungan Plasa dengan bonus sedikit tanjakan dan beberapa pohon yang sudah tumbang di tengah-tengah jalan.

Semua hal yang saya rindukan dari Pulau Sempu, membuat saya selalu ingin kembali lagi ke sana, dengan teman-teman yang menyenangkan, dan tentunya di musim kering. Pantai-pantai di Bali memang sangat indah, tapi pantai ini masih yang paling menarik, menurut saya. Mungkin untuk sebagian orang pantai ini biasa saja, tapi bagi saya yang datang dengan badan penuh lumpur, telapak kaki yang perih, dan perut yang sangat lapar, pantai ini terasa sangat nyaman.


"Saya sangat menyukai pantai tersembunyi ini, karena di tempat ini saya bisa menemui tiga hal yang paling saya sukai: suara ombak di malam hari, sinar matahari yang masuk melalui celah-celah dedaunan, dan gerimis di pagi hari.."

Friday, May 24, 2013

Salamun Kawasaki


Tiba-tiba saya ingin menulis sedikit tentang bapak-bapak yang menjadi teman saya ketika saya dan teman sejurusan saya, Tya, kerja praktek di Banyuwangi. Sebenarnya nama beliau hanya Salamun, tapi untuk kepentingan nama di facebook, salah satu rekan Pak Salamun, Pak Ari, menambahkan kata Kawasaki di belakang nama beliau. Kawasaki sendiri diambil dari merk salah satu mesin boiler di pabrik tempat saya kerja praktek. Saya sendiri separuh nggak percaya.
Selama sebulan kerja praktek di sana, Pak Salamun dan Pak Ari lah yang menjadi teman saya dan Tya. Dari sekitar 7 jam kerja, hampir 60%-nya kami habiskan untuk hal yang nggak produktif. Pagi-pagi kami dapat materi dari kabag-kabag di sana, sisanya kami habiskan untuk jalan-jalan di pabrik, foto-foto nggak penting, ngobrol dengan Pak Ari dan Pak Salamun, tiduran di masjid, bahkan pernah sampai tertidur di supermarket Giant depan pabrik. Saking nganggurnya, kami pernah diantar naik ke boiler setinggi 45 meter di belakang pabrik hanya untuk melihat Banyuwangi dari atas dan tentu saja foto-foto. Hehe.
Meskipun dari segi materi ilmu saya nggak mendapat terlalu banyak di sana, tapi saya dan Tya banyak mendapat pelajaran hidup dari Pak Salamun. Ecieee. Saya senang sekali bisa bertemu dengan bapak ini. Bahkan saya sempat kangen waktu beliau ambil cuti 2 hari, hehe. Sifat beliau yang polos dan baik hati ini yang membuat saya sedikit sedih waktu berpamitan untuk kembali ke Surabaya. Serius, bapak ini polos sekali. Saya masih ingat beberapa obrolan ringan kami di sela-sela pekerjaan kami beliau.
Saya     : (sambil buka-buka file komputer kantor) Pak ini lagunya Roma Irama semua ya?
Beliau  : Iya, Mbak, saya fans berat Roma Irama. Saya nggak terlalu suka kalo yang penyanyi-penyanyi band sekarang.
Saya     : Tapi tau Pak band-band sekarang?
Beliau  : Ya dikit. Kayak Ungu, Wali gitu. Kalo di tempat saya itu nggak terlalu suka yang gitu-gitu, lebih suka yang triji. Kan di kampung, Mbak.
Saya     : Lah, itu kok tau Treeji? (sempat terpikir sama boyband punya Tara Budiman yang udah bubar)
Beliau  : La iya, soalnya di kampung, makanya taunya ya lagu triji. Solawatan-solawatan gitu, atau kadang Roma Irama, kalo yang muda-muda gitu nggak suka, Mbak.
Saya     : (masih amat sangat heran) Solawatan? Lagu triji?
Beliau  : Itu triji yang agama-agama maksudnya, Mbak.
Saya     : Itu RELIGI kali, Pak.
(Saya dan Tya cuma ngakak)
Saya     : Semua lagunya Roma ada ya, Pak?
Beliau  : Lengkap, Mbak.
Saya     : Dapet dari mana, Pak?
Beliau  : Dari itu internet diajarin Pak Ari.
Saya     : Wesss... Canggih.. Ajarin donlot dong, Pak.
Beliau  : Itu dibuka aja di empatsaret, terus diketik judulnya.
(Serius, beliau mengeja 4Shared dengan empatsaret)
 Beliau : Tapi saya ada satu lagu yang nggak punya, Mbak. Sudah saya ingat-ingat judulnya dari radio tapi nggak nemu di internet.
Saya     : Judulnya apa, Pak?
Beliau  : Nanamurnana (nggak jelas).
Saya     : Apa, Pak?
Beliau  : Nanamurana (tetep nggak jelas)
Saya     : Coba ditulis di sini nanti saya carikan, Pak (sambil menyodorkan kertas pulpen)
Beliau menulis “katamurgana”.
Saya     : (Saya dan Tya mikir lama...sekali)
FATAMORGANA kali, Pak.

Bapak dua anak ini memang lugu dan sederhana. Saya dan Tya pernah main ke rumah beliau yang letaknya lumayan jauh dari kota. Saya penasaran sama es campur buatan istrinya yang kata beliau enak sampai manajer-manajer di sini suka pesan kalau ada acara di rumah. Bapak ini memang semangat sekali kalau menceritakan istri dan anak-anaknya.

Beliau  : Istri saya jualan es campur di rumah. Karena laris, jadi tetangga-tetangga ikut jualan. Tapi orang batuk-batuk kalo nggak di istri saya (maksudnya es campur tetangga-tetangga beliau nggak pake gula asli). Bapak-bapak manajer di sini juga pesan di istri (saya) kalo ada acara, soalnya es campur (buatan) istri (saya) enak, Mbak. Kalo jualan di rumah pake gula biasa, tapi kalo yang pesan Pak Manajer ya pake Marijan, Mbak.
Saya     : Pake apa, Pak? (memastikan pendengaran saya)
Beliau  : Itu lo.. sirup-sirup buat lebaran, Marijan.
Saya     : MARJAN kali, Pak..

Es campur buatan istri beliau memang enak, saya suka. Di rumah beliau yang sederhana, kami banyak ngobrol tentang anak-anak beliau yang masih kecil. Sangat malu-malu, persis seperti ibunya. Di sana, saya dan Tya sempat diajak menyambangi sawah dan kebun kelapa kecil milik beliau. Saya suka sekali udara di kampung beliau, terasa segar melewati rongga paru-paru saya. Sekarang pun saya masih suka tertawa sendiri kalau ingat beliau. Masih melekat di memori saya bagaimana suara handphone beliau saat ada panggilan masuk, monophonic ringtone dengan volume suara paling keras. Hahaha, saya kangen Bapak, Pak Salamun..

 
ki ke ka: Saya, Pak Salamun, Pak Heru, Tya, Pak Ari

“Bahkan kita bisa belajar banyak dari hal-hal sederhana yang tidak pernah kita duga sebelumya..”