Showing posts with label pantai. Show all posts
Showing posts with label pantai. Show all posts

Thursday, August 14, 2014

Sebuah Kotak Berisi Cerita

"Kun, foto, Kun!" teriak saya sambil memasang pasak tenda. Seketika Niken menghujani saya dengan kilatan lampu kameranya, menjepret setiap sudut peristiwa yang sepertinya sulit kami ingat satu per satu. Berharap foto-foto itu bisa menjadi topik bahasan manis saat kami berkumpul 20 atau 30 tahun lagi.

Hari sudah menjelang magrib saat rombongan kami sampai di tepi pantai. Alhasil kami harus mendirikan tenda dalam kondisi nircahaya. Dalam waktu cukup singkat, dua tenda dome ukuran kecil sudah berdiri di depan kami. Perut yang lapar memang menjadi motivator ampuh untuk bekerja lebih cepat.

Jadi, topik liburan kali ini adalah tentang kawan SMA. Lupakan soal sampah yang banyak berserakan di pasir. Abaikan bahwa ada senja di tepi laut yang terlewatkan. Yang saya ingat, ikan bakar Helpi enak sekali. Membodohi perut saya agar tidak sakit setelah hanya diganjal semangkuk bakso tawar siang tadi.

Menyebalkan memang, tidak bisa berlama-lama bermain pasir karena harus kembali ke kota lebih awal. Terlebih hujan yang terus turun sepanjang malam sampai pagi, membuat kami harus puas berdiam diri di dalam tenda dan di bawah atap jerami saja. Beruntungnya, kami masih sempat membawa pulang cerita-cerita lucu yang wajib kami bahas setahun lagi di rumah Helpi. Cerita tentang balada kacang dan tahu di perempatan jalan. Cerita tentang KTP dan bakso dari ibu pemilik sewa tenda. Sampai cerita tentang rombongan remaja yang mabuk-mabukan di atas mobil bak terbuka sepanjang perjalanan berangkat dan pulang, lengkap dengan lagu Oplosan dan lagu Adele versi dangdut koplo.

Saya masih menyisakan banyak tempat dalam kotak untuk menyimpan cerita-cerita berikutnya. Masih dengan suara Berinda yang membuat telinga pekak, dengan gosip-gosip terbaru dari Niken, dengan cemoohan-cemoohan yang terus dilontarkan Rayung, dan tentu dengan makanan-makanan enak buatan Helpi. Kami sudah mencentang taman hiburan, air terjun, dan pantai dalam daftar tahunan kami. Danau dan gunung sepertinya menarik untuk tahun depan. Yuk!

31 Juli - 1 Agustus 2014, sebuah liburan yang biasa. Karena "istimewa" sepertinya kini sudah menjadi hal yang biasa..

Tuesday, April 8, 2014

Salam Manis dari Pulau Pahawang


Sudah lama saya tidak menginjak pasir pantai, sampai lupa kapan terakhir kali kulit saya menghitam. Jumat bertanggal merah di bulan Januari lalu resmi memberangkatkan saya dan beberapa kawan ke Pulau Pahawang, Lampung. Dengan kereta Rajabasa, saya menempuh perjalanan selama hampir 10 jam untuk mencapai Bandar Lampung. Perjalanan disambung dengan menyewa angkot ke Pelabuhan Ketapang. Dari pelabuhan Ketapang saya dan rombongan menyewa kapal nelayan untuk menyeberang ke Pulau Pahawang Besar. Sebelum ke sana, kami mampir ke Pulau Mai Itam untuk snorkling. Yes! Akhirnya saya kembali merasakan asinnya air laut.

Spot yang saya temui di Mai Itam tidak terlalu bagus. Masih banyak pasir yang sering mengganggu penglihatan. Ikan-ikannya juga tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa bintang laut berwarna biru dan bulu babi. Tapi siapa yang peduli dengan semua itu, mengambang di laut saja saya sudah sangat girang.

Menjelang dzuhur, kami segera menuju ke Pulau Pahawang Besar untuk bersiap solat Jumat di satu-satunya masjid di pulau tersebut. Kami membersihkan diri di rumah Pak Arsali, pemilik kapal sekaligus pemilik rumah yang kami tumpangi. Sembari menunggu yang lain solat Jumat, saya menikmati kelapa muda di teras rumah ditemani angin sepoi-sepoi. Hmm, ada yang lebih nikmat?
***

Pulau Pahawang Besar hanya dihuni beberapa puluh keluarga yang hampir seluruhnya menggantungkan hidup dari hasil laut. Bangunan rumahnya sederhana dan hampir seragam. Seluruh rumah dibangun sendiri oleh penduduk pulau dengan gotong royong. Listrik bersumber dari tenaga matahari dan hanya mengalir di malam hari, itu pun sangat terbatas. Meski begitu, pulau ini sudah memiliki sekolah dasar dan menengah. Di ujung pulau terdapat sebuah vila kayu milik Mr. Joe, seorang pengusaha parfum asal Perancis. Di depan vila terhampar pulau kecil yang beberapa tahun lalu juga resmi menjadi pulau pribadi si bule Perancis.

Istri Pak Arsali banyak bercerita tentang si bule pemilik pulau. Tentang kebaikannya pada penduduk, tentang pesta akhir tahunnya di pulau, hingga tentang istri-istrinya yang tersebar di banyak tempat. Si ibu juga banyak bercerita tentang anak-anaknya, yang sudah bosan main di laut dan lebih senang main di waterpark yang letaknya sangat jauh di pulau seberang.
 
Saya suka sekali menggoda anak sulung si ibu, juga temannya yang tambun. Lucu dan polos. Ah, saya lupa namanya. Mereka bisa menyelam bebas sampai kedalaman 10 meter. Sangat keren menurut saya untuk ukuran anak SD. Jangankan menyelam bebas, berenang di laut dengan kedalaman 5 meter saja saya masih ngeri.
***

Sore hari saya sempatkan mampir ke salah satu pulau gosong di gugusan Pulau Pahawang. Bagus, tapi cukup ramai. Saya hanya menyusuri pasirnya yang kasar karena bercampur pecahan koral. Bersama gerimis, saya betah sekali duduk di atas pasir menikmati lanskap sore di Pahawang. Karena hujan mulai lebat, kami memutuskan untuk berteduh ke kapal dan kembali ke rumah.
The gals
The guys
Sampai di dermaga, hujan masih belum reda. Ah, saya melewatkan momen berenang bersama anak lokal. Biasanya mereka suka bermain di dermaga saat sore. Yah, mungkin di kesempatan lain.

Malamnya, kami bakar ikan yang langsung dibeli saat nelayan pulang dari laut. Sangat segar dan tentu sangat murah. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Saya tidak berhenti mengunyah. Perut saya penuh berisi ikan dan cumi bakar malam itu.

Merasa terlalu sore untuk tidur, saya memasang muka melas mengajak untuk main ke dermaga. Menggelar tikar, berbaring, dan hanya mengobrol hahahihi. Salah satu saat favorit saya, berbaring melihat bintang di tepi laut. Tidak berbuat apa-apa, sampai mengantuk.

Keesokan harinya, saya berniat mengejar sunrise. Kata si ibu matahari terbit bisa tampak jelas di ujung timur pulau. Hanya perlu berjalan selama 20 menit dari rumah. Melewati vila kayu si juragan parfum, saya menuju ke tempat yang diceritakan si ibu. Ah, lagi-lagi kurang beruntung. Saya telat. Matahari sudah menyembul naik. Salah saya tidak berangkat lebih pagi. Oke, mungkin di kesempatan lain, untuk membalaskan dua 'dendam' yang belum tersampaikan.
Pagi di Pahawang
Setelah sarapan, saya dan rombongan menuju kebun buah naga yang terletak di sisi barat pulau. Di sana saya bisa makan buah naga sepuasnya! Gratis! Pas sekali dimakan saat matahari terik. Mata saya terasa segar melihat deretan pohon serupa kaktus dengan buah berwarna merah menggantung. Ranum. Segera mengingatkan tentang mimpi saya memiliki kebun anggur atau buah naga sendiri.

Dengan perut penuh, kami segera menuju spot snorkling. Setelah beberapa kali pindah, perahu kami berhenti di salah satu spot yang bagus. Kali ini tidak mengecewakan. Terumbu karangnya berwarna-warni. Ikan bersliweran tanpa sungkan di sekitaran saya, termasuk ikan badut, si pemeran utama di film animasi Finding Nemo. Saya bisa bermain dengan si ikan narsis ini sampai bosan.

Saat matahari hampir di atas kepala, saya dan rombongan kembali ke rumah untuk makan siang dan berkemas. Saat-saat tidak menarik, berkemas untuk pulang. Tidak bisakah saya melewatkan hal membosankan itu dan tetap berada di liburan ini? Hm..

Saya berjalan pelan di atas dermaga menuju kapal, memandangi anak-anak lokal yang sedang bermain bola. Melihatnya, membuat tas punggung saya terasa berat. Tidak lupa saya menabur rindu di pasir putih pantai, yang suatu saat akan saya sambangi kembali. Bukan selamat tinggal untuk pulau ini, hanya sampai jumpa.

(foto oleh Eko)
Pada akhirnya, semua itu akan menjadi sesuatu yang manis. Paling tidak untuk saya sendiri. Selain dengan sekantong penuh kripik pisang khas Lampung, saya pulang dengan mengantongi banyak cerita bertopik pantai. Apa sih yang tidak menarik dari sebuah pantai? Hahaha.

Monday, December 30, 2013

Dua Bersaudara (Pantai Goa Cina dan Bajul Mati)

Gara-gara melihat foto ala prewed milik Fauzi dan Dini di Pantai Goa Cina, saya jadi ngiler ingin ke sana. Dengan berkedok menghadiri syukuran di rumah Arif, saya memutuskan untuk menyambangi pantai di ujung Kabupaten Malang itu bersama teman-teman kuliah. Bersepuluh, kami berangkat pukul 9 pagi dari rumah Arif. Pantai Goa Cina terletak di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing, memiliki arah yang hampir sama dengan Sendang Biru. Sepanjang jalan yang berkelok-kelok, mata kami disuguhi pemandangan yang cukup segar dibandingkan jajaran gedung tinggi yang berimpit di Surabaya. Mendekati pantai, kami bertemu dengan jalan berbatu yang naik turun sepanjang 900 meter. Dengan tidak memperhitungkan sejauh apa 900 meter itu, saya turun dari motor dan mencoba berjalan kaki. Baru 50 meter melangkah sudah membuat nafas saya tersengal. Ya sudahlah, dengan mengesampingkan gengsi, saya kembali naik ke boncengan motor salah satu teman saya dan duduk manis saja sepanjang jalan berbatu.

Sampai di Pantai Goa Cina, matahari sudah sangat tinggi. Cuaca terik, pasir putih, dan air laut yang bening, benar-benar favorit saya. Dengan berlatar batuan-batuan besar di tengah laut, kami menghabiskan waktu untuk berfoto. Batuan yang tampak hijau berlumut berjajar di sepanjang perbatasan pasir dan air laut. Dan, di bawah pohon kelapa, dengan semilir angin laut yang segar, ditemani keripik kentang dan minuman rasa buah, tepi laut menjadi sangat menarik.


Foto fultim, ki ke ka: saya, Hadi, Waba, Dani, Bayu dewe, Jimmi, Paundra, Arif, Mbak Atim, Mbak Mimin

Sepi dan bersih, saya suka

Goa Cina, panas sekali bukan?

Puas menjejaki pasir Pantai Goa Cina yang panas, kami beranjak ke tujuan berikutnya, Pantai Bajul Mati. Melewati jembatan Bajul Mati yang cukup terkenal, pantai berikutnya ditempuh dalam 30 menit saja. Kami segera menuju warung ikan bakar yang berderet di sepanjang pantai. Sialnya, dari sekian banyak warung, semuanya sedang kehabisan stok ikan. Sigh! Alhasil, kami hanya bisa memesan Indomie goreng dan nasi putih. Melas.

Bajul Mati memang tidak sebagus Goa Cina, tapi pantainya yang lebih landai membuat saya betah berlama-lama bermain air di sana. Waktu berjalan sangat cepat oleh kelakar teman-teman yang membuat perut saya kram menahan tertawa. Pasir pantai memang ajaib, bisa membuat Hadi dan Dani yang "alim" ikut ber-gangnam style bersama-sama di atasnya. Ada sedikit perasaan tidak rela saat harus membersihkan diri ketika matahari mulai merendah. Akhirnya, dengan ditemani gerimis di sore hari, iring-iringan motor kami pergi menjauhi pantai, menuju rumah Arif, untuk kembali ke aktivitas di Surabaya esok paginya.

Ini yang membuat saya menyukai tempat ini
Ya, pantai berpasir putih dan kawan lama adalah kompilasi yang tidak pernah membosankan. Dalam satuan memori, ada banyak hal di hari itu yang membuat saya selalu mengingat teman-teman saya. Dan, jika ada yang menuduh saya menyembunyikan celana Waba sore itu, "Percayalah Wab, aku tidak mungkin melakukan perbuatan sehina itu. Hahaha". Ah, saya jadi rindu berlibur dengan teman-teman lama. Yuk, keluarkan kamera (yang sepertinya sudah lama tidak terpakai) dan mulai berlibur!

Friday, October 18, 2013

Pasir yang Adiktif

Tengah tahun di 2011, sebagai pelarian saya di tengah-tengah kerja praktek. 


Setelah berjam-jam duduk di kursi belakang mobil yang saya tumpangi, akhirnya saya sampai di Legian. Saat itu kantong saya masih berlabel mahasiswa kost-kostan, jadi saya harus memutar otak bagaimana agar biaya perjalanan ke Bali kali ini bisa ditekan. Beruntung saat sampai di Pelabuhan Ketapang saya bertemu dengan sebuah keluarga asli Bali yang akan pulang kampung. Kami hanya membayar sekian puluh ribu untuk tumpangan 3 orang. Sampai di Legian malam hari. Segera saya mencari penginapan murah berpedoman pada referensi yang saya kumpulkan dari internet.

Setelah sejenak meletakkan punggung ini di kasur penginapan, saya memutuskan untuk main ke pantai. Saya sudah sangat rindu dengan pasir Pantai Kuta. Saya kangen suasana Kuta di malam hari. Saya dan salah satu teman saya mulai menyusuri gang kecil Poppies Lane yang sangat ramai di malam hari. Hanya ada segelintir pribumi diantara ratusan warga asing yang berlalu-lalang. Kami tampak aneh dengan pakaian panjang dan jaket tebal diantara bule-bule yang berpakaian pendek dan tipis. Sepanjang jalan banyak yang menawari kami agar mampir ke kedai mushroom (semacam minuman memabukkan yang terbuat dari jamur) milik mereka. Tampaknya tawaran mereka hanya sekedar ledekan pada orang-orang cupu yang sedang lewat seperti kami.

Karena urusan perut, mampirlah kami ke KFC yang berada tepat di seberang pantai. Restoran ini menjadi opsi terakhir kami karena sulit mencari tempat makan halal di sekitaran pantai, terlebih di malam hari. Yang ada hanya bar-bar berisi penuh wisatawan asing yang sedang menikmati musik khas diskotik sambil minum-minum. Saya memilih meja terluar dari restoran untuk makan sambil menikmati suasana Kuta. Jalanan sangat ramai. Suara musik house yang dimainkan para disc jockey bercampur dimana-mana. Sedikit demi sedikit pengunjung pantai berkurang dan beralih ke bar-bar yang tampak semakin penuh sesak. Sebenarnya saya merasa sangat kikuk di tengah suasana ini. Saya tidak suka. Bahkan sedikit terselip rasa takut kalau terjadi apa-apa. Tapi saya mencoba tetap terlihat santai dengan penampilan saya yang "aneh" dari yang lain.

Malam sudah semakin larut. Pukul setengah 12. Segera saya menghabiskan sisa minuman soda saya untuk segera berjalan ke pantai. Menginjak pasir pantai, saya mencari tempat yang cukup dekat dengan batas air laut. Dengan hanya diterangi lampu-lampu di seberang jalan, saya duduk menikmati debur ombak yang terasa sangat dekat. Ya, saya hanya duduk dan tidak berbuat apa-apa, mengarahkan pandangan saya jauh ke lautan yang gelap. Sesekali saya menengok ke arah utara, melihat kembang api warna-warni sisa pesta para turis.

Sambil merasakan angin pantai yang semakin dingin, saya meletakkan punggung saya di atas pasir. Lelah di pundak seakan menumpuk ingin direbahkan sejenak. Saya sedikit sekali mengobrol dengan teman di samping saya yang rupanya ikut membaringkan badannya di pasir. Hanya sesekali terdengar suara obrolan kami, sisanya hanya suara musik bar dan deru ombak. Ah, saat-saat favorit saya, diam mendengarkan suara ombak di malam hari.

Pukul 12 malam suara musik dan ombak terdengar semakin sayup di telinga saya. Dan saya mulai tertidur. Beralaskan pasir Pantai Kuta, di bawah langit Kota Denpasar belahan selatan, ditemani suara debur ombak yang tidak pernah terputus, saya melepas lelah. Tak tahu berapa lama saya tertidur. Yang saya ingat, pantai sudah sangat sepi saat saya terbangun. Sambil mengembalikan kesadaran, saya membersihkan pasir-pasir yang menempel di jaket. Masih dengan angin yang bertiup kencang dan udara yang dingin, saya merapatkan kedua lengan dan segera beranjak untuk kembali ke penginapan.

Selama 4 hari di Bali, saya tidak absen mengunjungi Pantai Kuta setiap malam. Sama seperti malam sebelumnya, hanya memperhatikan aktivitas para turis asing, bersila di atas pasir, dan berbaring mendengarkan suara ombak. Kalau ada kesempatan lagi, saya masih mau mengulang momen-momen tidak penting itu. Mungkin di lain kesempatan, masih di pantai yang sama.

Tuesday, July 2, 2013

Sempu, I'm in Love

Sejak kecil saya adalah penggemar pantai. Karena belum banyak pantai yang saya kunjungi, sampai sekarang saya masih berkeinginan untuk menyambangi lebih banyak pantai. Saya juga lumayan terobsesi untuk mempunyai sebuah rumah kayu sederhana di tepi pantai. Bahkan kalau sedang sakaw ingin ke pantai, duduk lah saya di tepian kenjeran dengan ditemani secangkir kopi. Yaa..meskipun menurut saya kenjeran sangat jauh dari deskripsi sebuah pantai, tak apalah yang penting saya bisa melihat air laut.

Kalau ditanya di mana pantai favorit saya, yang muncul dalam pikiran saya adalah sebuah pantai tersembunyi di pulau Sempu, Segara anakan. Yap, saya sudah menjatuhkan hati saya di sana sejak pertama kali datang. Saya baru dua kali datang ke Segara Anakan, dan selalu ingin kembali ke sana. Karena hari ini saya kangen sekali dengan pantai di ujung selatan Kabupaten Malang ini, maka saya buat lah postingan ini. Sebenarnya saya sedikit merasa berdosa kalau bercerita tentang Sempu karena pulau ini adalah salah satu kawasan cagar alam yang tidak bisa sembarangan dikunjungi. Namun, anggaplah saya hanya bercerita tentang pengalaman jatuh cinta saya pada pulau ini. Hahaha. Sama saja. Menurut saya pribadi, tak apalah mengunjungi pulau ini kalau hanya sekedar ingin menikmati keindahannya, asal tidak sampai melakukan hal-hal berbau  vandalisme yang bisa membuat pulau ini tidak menarik lagi.
***

Sempu adalah sebuah pulau di Malang selatan yang dapat dicapai dengan menggunakan perahu motor selama 10 menit dari Pantai Sendang Biru. Setelah sampai di Pulau Sempu, untuk mencapai Pantai Segara Anakan masih harus melewati jalan setapak sepanjang 1,5 km di tengah hutan yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Saat musim kering, jalan bisa ditempuh dalam waktu 1-2 jam. Namun, akan diperlukan waktu 2 sampai 4 jam lebih lama jika ke sana saat musim hujan, bisa ditambahkan sendiri ya waktu tempuhnya. Waktu pertama kali ke sana bersama teman-teman saya (Mas Didi, Mas Rizki, Ima, Rosita, dan Mas Rudy) di awal tahun 2011, kebetulan di tengah-tengah musim hujan. Alhasil, kami membutuhkan waktu tak kurang dari 5 jam untuk sampai di Segara Anakan. Anggaplah saya berlebihan, tapi pada saat itu memang medannya sangat berat. Jalan di hutan sangat licin karena air hujan di tanah belum mengering. Belum lagi kubangan-kubangan air berwarna coklat yang menyembunyikan akar-akar pohon atau batuan karang di dalamnya. Kalau salah melangkah, bisa-bisa terpeleset atau bahkan terkena batu karang yang tajam di dalam kubangan. Sialnya, saya berkali-kali terpeleset sampai-sampai telapak kaki kanan saya robek kena goresan karang. Sebenarnya bisa si pakai sepatu biar lebih aman, tapi harus sepatu khusus mendaki. Kalau pakai sepatu sneakers biasa seperti saya, nasibnya pasti sama, harus bertelanjang kaki dengan sepatu penuh lumpur menggantung tak berguna. Keadaan tak akan bertambah parah kalau saya menyeberang tidak terlalu sore. Saat itu saya baru menyeberang pukul setengah 5, mau tak mau harus melewati hutan dengan sumber cahaya yang terbatas. Waktu itu kami hanya bawa 4 senter untuk 6 orang. Alhasil kami hanya bisa berjalan pelan-pelan dan memastikan tidak ada teman yang terpisah tanpa berpikir bahwa kami ada dalam hutan yang sama dengan gerombolan harimau yang bisa datang kapan saja. Tapi tenang saja, bertemu dengan harimau di sini adalah kejadian yang sangat langka.

Serius ya, berjalan di tengah hutan dalam kegelapan itu bukan hal yang mudah, menurut saya. Beban di pundak lumayan berat membawa bekal air tawar, tangan dan kaki penuh lumpur, dan tentu saja saya lapar. Perut hanya bisa diganjal dengan roti karena medan tidak memungkinkan untuk membuat makanan bahkan untuk sekedar memasak air. Sepanjang perjalanan saya berkali-kali berpikir, "What am I doing here?". Tapi ya sudahlah, saya sudah sejauh dan sekotor ini. Mau pulang pun rasanya tidak ikhlas.

Hal yang paling menarik dari perjalanan saya ke Segara Anakan adalah saat harus melewati tepian jurang rendah yang berbatasan langsung dengan laut. Sebelum mencapai pantai, saya harus berjalan melipir di jalanan kecil di pinggir laut yang sangat licin sepanjang 50 meter dengan berpegangan pada ranting dan akar pohon di sekitarnya. Kalau lengah sedikit, bisa terpeleset atau bahkan terjatuh. Beruntung jika jatuh langsung ke air, kalau ke batuan karang? Tapi keadaannya tak akan seseram itu kalau kita lewat di siang hari. Paling tidak kita bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan mata dan apa yang sedang kita pijak.

Setelah melewati bibir jurang yang cukup membuat nafas saya kembang kempis, sekitar pukul 10 malam akhirnya saya sampai di pantai untuk pertama kalinya. Perasaannya seperti apa ya, yang jelas saya lega, saya senang, saya lapar, dan saya kotor. Meskipun saya belum bisa melihat pantainya dengan jelas karena gelap, tapi saya sudah jingkrak-jingkrak ndeso hanya dengan mendengar suara ombak. Satu hal yang saya ingat malam itu adalah bintang di langit Sempu jauh lebih banyak daripada di Surabaya atau di rumah saya.

Sesampainya di pantai, kami langsung membangun tenda dan membuat api. Hanya api dari kompor kecil yang menghangatkan kami. Kalau mau bikin api unggun ya silakan, tapi harap bersihkan bekasnya dan bawa kayu bakar sendiri. Bagaimana pun juga, memotong kayu sembarangan di hutan adalah hal yang merusak. Dan lagi, kalau malas membereskan bekas api unggun, dosanya ditanggung sendiri ya.

Tengah malam hujan turun sangat deras sampai subuh. Suara hujan dan gemuruh ombak yang membuat bising malam itu justru seperti meninabobokan saya di atas pasir berlapis terpal yang dingin dan sangat tidak empuk. Perih di telapak kaki sampai tak terasa saking dinginnya. Saya cuma bisa meringkuk dan mengapitkan kedua tangan di ketiak yang hangat. Hahaha. Selang dua jam kemudian, saya terbangun karena baju saya basah kena air hujan. Bagian samping tenda bocor dan langsung merembes ke baju saya. Lumayan lah menambah efek dingin pada tidur saya malam itu.

Menjelang subuh saya terbangun, hanya bisa duduk menghindari air yang semakin banyak mengalir masuk. Setelah hujan mereda, saya keluar tenda untuk mengambil air wudu di laut. Saat itu untuk pertama kalinya saya melihat Segara Anakan tidak dalam keadaan gelap gulita. Saya cuma bisa bilang waw. Air lautnya bening. Pantai ini dan Samudra Hindia hanya dibatasi dengan batuan karang. Di sebelah kiri (maaf saya buta arah) terdapat lubang karang tempat dimana air dari samudra masuk ke laut yang terisolasi ini. Di sekeliling laut hanya ada bukit-bukit karang, tebing, serta hutan di belakang yang sebelumnya sudah saya lewati untuk mencapai pantai ini. Hanya ada warna hijau dan biru di depan mata saya. Tak ada listrik. Tak ada kamar mandi. Sumber air tawar pun sangat jauh dan keruh, terlebih saat musim hujan.

Lubang karang


Dengan naik ke tebing karang yang ada di sebelah kiri, kita bisa melihat Samudra Hindia yang luas dengan ombaknya yang besar. Kalau sedang beruntung bisa melihat gerombolan lumba-lumba berkejaran di laut lepas saat sore. Sayangnya saya kurang beruntung karena harus segera kembali sebelum kemalaman lagi di hutan. Ya...mungkin di kesempatan lain.

Samudra Hindia di balik Segara Anakan

Sebenarnya saya tak rela meninggalkan pantai ini mengingat harus melewati medan yang sama seperti saat berangkat, tapi bekal sudah habis dan saya merasa sangat kotor. Air laut tidak membantu banyak untuk menghilangkan gatal-gatal di badan. Maka pulanglah kami dengan bekal energi hanya dari mie instan. Perjalanan pulang bisa kami tempuh "hanya" dalam 3 jam saja. Cahaya terang memang benar-benar sangat membantu. Tangan kami mulai terampil berpegangan pada ranting pohon. Kaki kami juga sudah telaten untuk memilih tempat berpijak. Tapi yang jelas masih dengan badan yang penuh lumpur.

Eit, tapi lupakan semua cerita saya tentang perjalanan menuju Segara Anakan tadi jika kita ke sana saat musim kemarau. Medannya akan menjadi sangat ramah dan mudah dilewati, tak perlu susah-susah mencari ranting untuk pegangan atau mencari pijakan yang aman. Saat saya mengunjungi Sempu di musim kering, trek yang sama bisa ditempuh hanya dalam waktu 75 menit. Hanya dengan bermodal sendal jepit saya bisa mencapai pantai dengan pakaian masih rapi dan bersih. Tidak ada lagi jalanan yang licin dan mendebarkan. Sama mudahnya dengan berjalan di Tunjungan Plasa dengan bonus sedikit tanjakan dan beberapa pohon yang sudah tumbang di tengah-tengah jalan.

Semua hal yang saya rindukan dari Pulau Sempu, membuat saya selalu ingin kembali lagi ke sana, dengan teman-teman yang menyenangkan, dan tentunya di musim kering. Pantai-pantai di Bali memang sangat indah, tapi pantai ini masih yang paling menarik, menurut saya. Mungkin untuk sebagian orang pantai ini biasa saja, tapi bagi saya yang datang dengan badan penuh lumpur, telapak kaki yang perih, dan perut yang sangat lapar, pantai ini terasa sangat nyaman.


"Saya sangat menyukai pantai tersembunyi ini, karena di tempat ini saya bisa menemui tiga hal yang paling saya sukai: suara ombak di malam hari, sinar matahari yang masuk melalui celah-celah dedaunan, dan gerimis di pagi hari.."