Tuesday, September 9, 2014

Rumah

Sore lalu, saya mencoba membuat oseng kangkung seperti yang biasa dimasak oleh ibu saya. Bentuk dan warnanya hampir sama. Hanya saja rasanya sedikit berbeda. Hm, mungkin kurang garam. 

Lalu saya mencoba membuat pisang goreng. Meletakkan sepiring pisang goreng hangat di lantai untuk dimakan bersama. Di depan tivi, dengan topik bahasan seputar kucing, makanan, dan tetangga sebelah. Menduplikasi apa yang biasa saya lakukan di rumah bersama adik. Sepiring pisang goreng hangat, sukses mengganjal perut saya yang belum terisi sejak siang. Tapi seperti sedikit pahit, mungkin pisangnya terlalu masak.

Saya mencoba duduk di ruang tengah, di samping teman dekat saya. Kemudian saya banyak bercerita tentang mimpi dan masa lalu, sama seperti cerita saya pada ayah. Saya banyak bicara, si kawan masih terus menyimak. Kami terbahak, lalu selesai. Saya seperti kehabisan cerita. Hm, mungkin ada yang terlewat dari cerita saya.

Saya berada di dalam tempat dengan pintu kayu yang sama, jendela kaca yang serupa, dan lantai yang sama dinginnya. Bahkan saya memasang hiasan dinding yang sama dengan di rumah. Apa yang masih kurang? Mungkin saya belum mendapat aroma rumah. Lalu saya mengganti pewangi ruangan dengan wangi kesukaan ibu saya. Belum berhasil. Saya menyerah.

Saya mencoba menjawab teka-teki lain tentang teras rumah, kudapan sore, dan rumput basah di halaman. Saya berpura-pura tidak tahu dan mulai mencoba untuk tidur. Berharap besok pagi saya bangun dan menemui bahwa saya sudah menamai tempat ini, Rumah.

"Kalau hati mulai sering meracau tidak jelas, emosi mulai mudah tersulut, dan perasaan tenang mulai jarang menghampiri, sepertinya sudah saatnya untuk pulang.."

Thursday, August 14, 2014

Sebuah Kotak Berisi Cerita

"Kun, foto, Kun!" teriak saya sambil memasang pasak tenda. Seketika Niken menghujani saya dengan kilatan lampu kameranya, menjepret setiap sudut peristiwa yang sepertinya sulit kami ingat satu per satu. Berharap foto-foto itu bisa menjadi topik bahasan manis saat kami berkumpul 20 atau 30 tahun lagi.

Hari sudah menjelang magrib saat rombongan kami sampai di tepi pantai. Alhasil kami harus mendirikan tenda dalam kondisi nircahaya. Dalam waktu cukup singkat, dua tenda dome ukuran kecil sudah berdiri di depan kami. Perut yang lapar memang menjadi motivator ampuh untuk bekerja lebih cepat.

Jadi, topik liburan kali ini adalah tentang kawan SMA. Lupakan soal sampah yang banyak berserakan di pasir. Abaikan bahwa ada senja di tepi laut yang terlewatkan. Yang saya ingat, ikan bakar Helpi enak sekali. Membodohi perut saya agar tidak sakit setelah hanya diganjal semangkuk bakso tawar siang tadi.

Menyebalkan memang, tidak bisa berlama-lama bermain pasir karena harus kembali ke kota lebih awal. Terlebih hujan yang terus turun sepanjang malam sampai pagi, membuat kami harus puas berdiam diri di dalam tenda dan di bawah atap jerami saja. Beruntungnya, kami masih sempat membawa pulang cerita-cerita lucu yang wajib kami bahas setahun lagi di rumah Helpi. Cerita tentang balada kacang dan tahu di perempatan jalan. Cerita tentang KTP dan bakso dari ibu pemilik sewa tenda. Sampai cerita tentang rombongan remaja yang mabuk-mabukan di atas mobil bak terbuka sepanjang perjalanan berangkat dan pulang, lengkap dengan lagu Oplosan dan lagu Adele versi dangdut koplo.

Saya masih menyisakan banyak tempat dalam kotak untuk menyimpan cerita-cerita berikutnya. Masih dengan suara Berinda yang membuat telinga pekak, dengan gosip-gosip terbaru dari Niken, dengan cemoohan-cemoohan yang terus dilontarkan Rayung, dan tentu dengan makanan-makanan enak buatan Helpi. Kami sudah mencentang taman hiburan, air terjun, dan pantai dalam daftar tahunan kami. Danau dan gunung sepertinya menarik untuk tahun depan. Yuk!

31 Juli - 1 Agustus 2014, sebuah liburan yang biasa. Karena "istimewa" sepertinya kini sudah menjadi hal yang biasa..

Monday, June 30, 2014

Selamat pagi, Pagi!

Bantu saya untuk menyugesti diri sendiri. Mengapa pagi menjadi tidak semenarik dulu. Saya sudah tidak lagi tergoda dengan udara pagi. Bahkan saya tidak lagi melirikkan mata ke arah timur setiap saya bangun dan bersiap untuk beraktivitas. Rumah kontrakan saya kurang ramah dengan pagi, lebih sering membuat saya malas-malasan di kasur daripada berjalan keluar mengisi ulang paru-paru dengan udara rendah polusi.

"Mbak Mimin, masih ingat tidak, setiap kita membuka pintu lab di lantai 3 kampus di pagi hari, tidak ada yang menarik selain suara berisik burung-burung yang berkicau di atas pohon. Rasanya menyebalkan bukan, tidak bisa merasakan lagi skenario pagi yang satu itu?"

"Mbak Mita, masih ingat rasanya keluar tenda di pagi hari di tepian laut? Ah, Mbak Mita pasti tidak pernah lupa. Itu skenario pagi yang membuat aku malas kembali ke rutinitas kuliah. Pasir pantai itu antagonis, Mbak. Membuat aku malas beraktivitas. Tidak produktif."

"Rayung, aku yakin suasana fajar di tepi pantai dengan latar perahu nelayan itu tidak mudah terhapus dari ingatan. Langit yang masih merah. Aku suka. Menarik, bukan? Atau kau lebih suka skenario pagi di pasar seni Bali? Berjalan melihat-lihat barang kerajinan yang dijual dengan harga murah. Kalau memang sudah tidak ada lagi skenario pagi yang menarik, kita masih punya simpanan skenario siang yang asyik. Yuk, Yung, kita bertemu di Taman Sulawesi, untuk menikmati siang yang manis, sembari makan eskrim murah Paddle Pop."


Monday, May 26, 2014

Sebuah Pertanyaan di Sore Hari

Kata orang saya sering memberikan kritik yang pedas, atau semacam kata-kata yang tidak manis. Sepertinya begitu. Namun, bukan berarti saya selalu menilai buruk. Toh, kalau memang bagus, saya tidak pernah ragu untuk mengacungkan kedua jempol. 

Di siang hari yang biasa ini, saya melihat seorang kawan menunjukkan kelebihannya di hadapan saya dan kawan-kawan yang lain. Kelebihan yang saya yakin tidak sembarang orang punya. Kelebihan yang membuat saya mengangkat topi. Sendiri. Rupanya orang-orang di depan saya ini memilih untuk bersikap naif, merasa tidak ada yang layak diapresiasi. Bahkan tidak untuk sebatas menyematkan sedikit pujian. Karena menurut saya, memberi apresiasi pada seseorang tidak semena-mena akan menjatuhkan harga diri saya. Kalau memang mengesankan, saya rela berdiri dengan tepukan tangan yang keras, setidaknya untuk sekedar memberi penghargaan kecil. Paling tidak, dengan itu saya tidak menutup mata bahwa masih banyak orang hebat di luar sana. Menampar diri saya sendiri yang hanya berkutat itu-itu saja.

Kenapa di saat ada yang buruk, kritikan pedas datang bertubi-tubi, atas nama saran dan kepedulian. Tapi saat ada yang baik, seperti menutup mata, menganggap biasa. Yah, itu urusan masing-masing orang. Daripada saya berpikir macam-macam, lebih baik saya pulang

Di atas kasur saya yang rendah, saya merebahkan punggung. Samar-samar terdengar lagu milik Tim McGraw dari pemutar musik saya. Dan hanya dalam sepenggalan bait lagu, saya pun tertidur. Menggantungkan begitu saja pertanyaan saya sore hari ini. Nanti juga lupa.

"The highway won't hold you tonight
The highway don't know you're alive
The highway don't care if you're all alone
But I do, I do.."