Adhitia sofyan emang jagoan kalau bikin lagu yang menurut saya sederhana, tapi adiktif. Kata laki-laki penggemar krupuk ini, semua lagu-lagunya ditulis di dalam kamar tidurnya. Pantesan lagunya banyak yang galau ya, Mas. Hahaha. Beberapa tahun lalu Adelaide sky ini menjadi salah satu lagu pengantar tidur favorit saya, dan sekarang akan hadir lagi di playlist saya :)
Friday, June 21, 2013
Thursday, June 13, 2013
23 Tahun
Semakin lama saya merasa terintimidasi dengan segala komentar orang-orang terdekat saya tentang sifat dan penampilan saya. Saya sudah 23 tahun, dan saya masih suka bermain, nongkrong di malam hari, dan melakukan hal-hal tidak penting untuk usia saya. Saya masih dengan kaus-kaus oblong saya, celana jins, serta dengan sepatu sneakers atau sekedar sandal jepit tipis yang melapisi telapak kaki saya. Saya masih dengan suara tertawa yang tidak lirih dan kadar guyonan yang masih sangat tinggi.
Ibu saya selalu menghela nafas panjang setiap saya memamerkan sepatu kets baru. Ibu selalu menggelengkan kepala setiap saya keluar rumah hanya bercelana pendek dengan atasan kaus kusam. Dan ibu selalu menggerutu setiap saya pulang dengan kulit yang semakin menghitam karena terlalu sering berada di luar saat matahari terik. Di saat-saat tertentu saya sudah mencoba memakai sepatu perempuan pada umumnya, dan hasilnya, pernah kaki saya sampai lecet saat harus mengenakannya seharian, bahkan dengan sepatu yang tidak murah yang kata orang nyaman dipakai. Mungkin anatomi kaki saya tidak seperti perempuan pada umumnya, atau mungkin hati saya yang tidak sepenuhnya rela untuk sekedar mengenakan sepatu wanita. Entahlah, yang pasti saya merasa sangat tidak nyaman dengan sepatu-sepatu itu.
Ibu saya selalu menghela nafas panjang setiap saya memamerkan sepatu kets baru. Ibu selalu menggelengkan kepala setiap saya keluar rumah hanya bercelana pendek dengan atasan kaus kusam. Dan ibu selalu menggerutu setiap saya pulang dengan kulit yang semakin menghitam karena terlalu sering berada di luar saat matahari terik. Di saat-saat tertentu saya sudah mencoba memakai sepatu perempuan pada umumnya, dan hasilnya, pernah kaki saya sampai lecet saat harus mengenakannya seharian, bahkan dengan sepatu yang tidak murah yang kata orang nyaman dipakai. Mungkin anatomi kaki saya tidak seperti perempuan pada umumnya, atau mungkin hati saya yang tidak sepenuhnya rela untuk sekedar mengenakan sepatu wanita. Entahlah, yang pasti saya merasa sangat tidak nyaman dengan sepatu-sepatu itu.
Dengan banyaknya nasehat teman-teman terdekat, sindiran saudara-saudara sepupu, dan tentu saja helaan nafas panjang ibu, sedikit banyak mendorong saya untuk berubah. Saya baru menyadari bahwa mencoba hal baru ternyata tidak selalu menarik. Terlebih saat harus mencoba hal yang tidak kita inginkan. Mungkin hanya butuh sedikit melapangkan hati, menurunkan taraf egoisme, dan menengok sisi positifnya.
"Banyak yang menganggap bahwa saya malas berubah dan selalu mengabaikan pendapat orang, keras kepala dan tidak pernah mau mencoba. Tapi menurut saya tidak, saya memang keras kepala, tapi saat ini saya sedang mencoba."
"Banyak yang menganggap bahwa saya malas berubah dan selalu mengabaikan pendapat orang, keras kepala dan tidak pernah mau mencoba. Tapi menurut saya tidak, saya memang keras kepala, tapi saat ini saya sedang mencoba."
Friday, May 24, 2013
Salamun Kawasaki
Tiba-tiba saya ingin menulis sedikit tentang
bapak-bapak yang menjadi teman saya ketika saya dan teman sejurusan saya, Tya,
kerja praktek di Banyuwangi. Sebenarnya nama beliau hanya Salamun, tapi untuk
kepentingan nama di facebook, salah satu rekan Pak Salamun, Pak Ari,
menambahkan kata Kawasaki di belakang nama beliau. Kawasaki sendiri diambil
dari merk salah satu mesin boiler di pabrik tempat saya kerja praktek.
Saya sendiri separuh nggak percaya.
Selama sebulan kerja praktek di sana, Pak Salamun
dan Pak Ari lah yang menjadi teman saya dan Tya. Dari sekitar 7 jam kerja,
hampir 60%-nya kami habiskan untuk hal yang nggak produktif. Pagi-pagi kami
dapat materi dari kabag-kabag di sana, sisanya kami habiskan untuk jalan-jalan
di pabrik, foto-foto nggak penting, ngobrol dengan Pak Ari dan Pak Salamun,
tiduran di masjid, bahkan pernah sampai tertidur di supermarket Giant depan
pabrik. Saking nganggurnya, kami pernah diantar naik ke boiler setinggi 45
meter di belakang pabrik hanya untuk melihat Banyuwangi dari atas dan tentu
saja foto-foto. Hehe.
Meskipun dari segi materi ilmu saya nggak
mendapat terlalu banyak di sana, tapi saya dan Tya banyak mendapat pelajaran
hidup dari Pak Salamun. Ecieee. Saya senang sekali bisa bertemu dengan bapak
ini. Bahkan saya sempat kangen waktu beliau ambil cuti 2 hari, hehe. Sifat
beliau yang polos dan baik hati ini yang membuat saya sedikit sedih waktu
berpamitan untuk kembali ke Surabaya. Serius, bapak ini polos sekali. Saya
masih ingat beberapa obrolan ringan kami di sela-sela pekerjaan kami
beliau.
Saya : (sambil buka-buka
file komputer kantor) Pak ini lagunya Roma Irama semua ya?
Beliau : Iya, Mbak, saya fans berat Roma
Irama. Saya nggak terlalu suka kalo yang penyanyi-penyanyi band sekarang.
Saya : Tapi tau Pak
band-band sekarang?
Beliau : Ya dikit. Kayak Ungu, Wali
gitu. Kalo di tempat saya itu nggak terlalu suka yang gitu-gitu, lebih suka
yang triji. Kan di kampung, Mbak.
Saya : Lah, itu kok
tau Treeji? (sempat terpikir sama boyband punya Tara Budiman yang udah
bubar)
Beliau : La iya, soalnya di kampung,
makanya taunya ya lagu triji. Solawatan-solawatan gitu, atau kadang Roma Irama,
kalo yang muda-muda gitu nggak suka, Mbak.
Saya : (masih amat sangat
heran) Solawatan? Lagu triji?
Beliau : Itu triji yang agama-agama
maksudnya, Mbak.
Saya : Itu RELIGI
kali, Pak.
(Saya dan Tya cuma ngakak)
Saya : Semua lagunya
Roma ada ya, Pak?
Beliau : Lengkap, Mbak.
Saya : Dapet dari
mana, Pak?
Beliau : Dari itu internet diajarin Pak
Ari.
Saya : Wesss...
Canggih.. Ajarin donlot dong, Pak.
Beliau : Itu dibuka aja di empatsaret,
terus diketik judulnya.
(Serius, beliau mengeja 4Shared dengan empatsaret)
Beliau : Tapi saya ada satu lagu yang
nggak punya, Mbak. Sudah saya ingat-ingat judulnya dari radio tapi nggak nemu
di internet.
Saya : Judulnya apa,
Pak?
Beliau : Nanamurnana (nggak jelas).
Saya : Apa, Pak?
Beliau : Nanamurana (tetep nggak
jelas)
Saya : Coba ditulis di
sini nanti saya carikan, Pak (sambil menyodorkan kertas pulpen)
Beliau menulis “katamurgana”.
Saya : (Saya dan Tya
mikir lama...sekali)
FATAMORGANA kali, Pak.
Bapak dua anak ini memang lugu dan sederhana.
Saya dan Tya pernah main ke rumah beliau yang letaknya lumayan jauh dari kota.
Saya penasaran sama es campur buatan istrinya yang kata beliau enak sampai
manajer-manajer di sini suka pesan kalau ada acara di rumah. Bapak ini memang
semangat sekali kalau menceritakan istri dan anak-anaknya.
Beliau : Istri saya jualan es campur di
rumah. Karena laris, jadi tetangga-tetangga ikut jualan. Tapi orang batuk-batuk
kalo nggak di istri saya (maksudnya es campur tetangga-tetangga beliau
nggak pake gula asli). Bapak-bapak manajer di sini juga pesan di istri
(saya) kalo ada acara, soalnya es campur (buatan) istri (saya) enak, Mbak. Kalo
jualan di rumah pake gula biasa, tapi kalo yang pesan Pak Manajer ya pake
Marijan, Mbak.
Saya : Pake apa, Pak?
(memastikan pendengaran saya)
Beliau : Itu lo.. sirup-sirup buat
lebaran, Marijan.
Saya : MARJAN kali,
Pak..
Es campur buatan istri beliau memang enak, saya
suka. Di rumah beliau yang sederhana, kami banyak ngobrol tentang anak-anak
beliau yang masih kecil. Sangat malu-malu, persis seperti ibunya. Di sana, saya
dan Tya sempat diajak menyambangi sawah dan kebun kelapa kecil milik beliau.
Saya suka sekali udara di kampung beliau, terasa segar melewati rongga
paru-paru saya. Sekarang pun saya masih suka tertawa sendiri kalau ingat
beliau. Masih melekat di memori saya bagaimana suara handphone beliau
saat ada panggilan masuk, monophonic ringtone dengan volume suara paling
keras. Hahaha, saya kangen Bapak, Pak Salamun..
“Bahkan kita bisa belajar banyak dari hal-hal sederhana yang tidak pernah
kita duga sebelumya..”
Wednesday, May 15, 2013
Makanan (nggak) Sehat itu Enak
Saya suka sekali makan makanan
yang nggak sehat, karena mereka enak. Saya suka junk food, saya nggak suka sayur dan saya sangat suka indomi.
Hahaha. Salah satu makanan (nggak sehat) favorit saya adalah bebek. Surabaya
memang terkenal dengan olahan bebeknya yang bermacam-macam dan tentu saja enak.
Maka dari itu, selama kuliah saya wajib mencoba berbagai macam menu bebek yang
banyak dijual di sepanjang jalanan Surabaya. Saya mencoba membuat daftar menu
bebek di Surabaya dan sekitarnya yang menurut saya lumayan untuk dicoba.
1. Bebek
Pahlawan.
Bebek goreng ini
dijual di kaki lima di sebelah selatan Tugu Pahlawan. Tempatnya terbuka dan
rame banget, harus sabar kalau antri di sini. Bukanya dari setelah magrib
sampai sekitar pukul sepuluh malam. Kalau menurut saya bumbu bebeknya nggak
terlalu istimewa, sambalnya ada dua macam, pedas dan sedikit asam. Saya malah
lebih tertarik sama es degan yang dijual di warung sampingnya. Saya jarang
sekali ke sini karena selain jauh dari kost, saya malas sekali antri pesan
makan dan tempat duduknya.
2. Bebek
Palupi
Ini salah satu
bebek favorit saya. Dagingnya empuk, gurih, dan sambalnya pas di lidah saya.
Buat yang suka bebek kriuk-kriuk bisa pesan agar bebek digoreng kering. Saya
jadi lapar. Hahaha. Warung Bebek Palupi ini buka setiap hari jam 5 sore sampai
11 malam. Saya juga jarang ke warung ini karena tempatnya yang lumayan jauh
dari kost saya, yaitu di pinggir jalan Rungkut Lor/Asri, di daerah Rungkut.
3. Bebek
Papin
Bebek goreng ini
juga salah satu favorit saya. Saya sering sekali ke tempat ini karena memang
dekat dengan kampus saya, yaitu di jalan Mulyosari depan Mc Donald. Selain di
sana juga ada cabang lain di dekat Stasiun Gubeng lama dan di daerah Kalianyar.
Bebeknya memang agak kecil, tapi gurih sekali dan empuk, ditambah dengan minyak
bebeknya yang disajikan terpisah, enak. Hahaha. Warung bebek goreng ini buka
dari magrib sampai sekitar pukul sepuluh malam.
4. Bebek
Hitam Sayeki
Bumbu bebek yang
satu ini agak beda sama bebek-bebek yang lain. Penampilannya yang hitam legam
dan berminyak semakin meyakinkan kalau makanan ini enak dan nggak sehat.
Sambalnya sangat pedas untuk ukuran lidah saya. Potongan bebeknya agak kecil
dan nggak konsisten kadang empuk kadang susah digigit. Warung ini buka setiap
hari dari siang sampai tengah malam di pinggir jalan Darmahusada samping
Alfamart.
5. Bebek
Purnama
Bebek yang satu
ini ada banyak sekali cabangnya, entah yang asli atau yang palsu. Masing-masing
cabang rasanya beda-beda. Kalau saya suka yang di Keputih, tapi sekarang
rasanya juga sudah beda. Ciri khas bebek ini adalah tambahan serundeng kelapa
pada bumbunya. Untuk ukuran bebek pinggir jalan rasanya mungkin agak lumayan
sedikit. Hehe.
6. Bebek
Mercoon
Dari namanya
sudah ketauan kalau bebek yang satu ini super pedas rasanya. Menu bebek mercoon
sendiri adalah krengsengan daging bebek dengan bumbu yang super pedas. Saya
sampai nangis-nangis kalau makan bebek ini. Selain bebek mercoon ada pilihan
menu lain yaitu bebek goreng kremes yang sambalnya dipisah. Harga bebeknya
sebenarnya nggak terlalu mahal, tapi minumnya lumayan mahal padahal saya butuh
lebih dari segelas kalau makan di sini. Tempat makan ini terletak di Jalan
Kayoon no 10A, buka setiap hari Senin-Sabtu pukul 11 siang sampai malam.
7. Bebek
H. Slamet
Bebek dengan
sambel korek khas satu ini nggak cuma ada di Surabaya. Bebek asal Kartasuro ini
sudah buka cabang banyak sekali di seluruh Indonesia. Kalau di Surabaya ada
beberapa cabangnya seperti di Semolowaru, HR. Muhammad, dan di Jalan Bali.
Daging bebeknya yang empuk dan gurih pas sekali disantap dengan sambal
koreknya.
8. Bebek
Wachid Hasyim
Bebek ini saya
temukan ketika nyasar saat mencari bebek di daerah kampus Petra. Karena
tempatnya lumayan ramai, saya memutuskan makan di tempat ini, dan ternyata
lumayan. Hehe. Bebeknya lumayan besar, empuk, dan murah. Bumbu hijaunya juga
lumayan enak. Tempatnya bersih karena bangunannya baru. Dan yang paling penting
di sini adalah..tarif parkirnya cuma 500. Saya bayar 1000 dikasih kembalian 500
sama si Bapak parkirnya. Hehe.
9. Bebek
Cak Yudi
Sebenarnya
warung bebek ini berlokasi di Perak, tapi sudah buka cabang di Kepanjen dan
Mulyosari. Kalau di Kepanjen buka dari siang, tapi kalau cabang Mulyosari baru
buka setelah maghrib. Bebek ini terkenal
dengan sambal pencitnya yang menurut saya, hmmm, biasa saja. Hehe.
10. Bebek
Cak Sandy
Bebek goreng ini
ada di jalan Slamet dekat SMA komplek dan Primagama. Harganya murah dengan
ukuran bebek yang lumayan besar. Bebeknya empuk dan enak. Sayangnya warung
bebek yang buka sejak jam 10 pagi ini kurang bersih, nggak bersih lebih
tepatnya. Haha.
11. Bebek
Hitam Klampis
Sesuai namanya,
penampakan bebek ini memang hitam, dengan sambalnya yang pedas dan berminyak.
Khas ala makanan nggak sehat, hahaha. Saya sendiri belum pernah mencoba bebek
ini di Klampis, tapi saya berkali-kali menikmati menu bebek ini di salah satu
cabangnya di Keputih. Sebenarnya bebek hitam ini hampir mirip dengan bebek
hitam Sayeki, tapi yang ini lebih asin dan lebih murah.
12. Bebek
Penyet Bu Kris
Bebek penyet ini
merupakan salah satu menu yang ada di Warung Bu Kris. Rasa gurihnya sangat pas
menurut saya, sambalnya juga pas. Memang tidak terlalu istimewa, tapi sangat
pas, hehe. Dulu saya sering sekali memesan menu ini dipasangkan dengan es
cendol ukuran jumbonya yang sedap.
13. Bebek
Kayu Tangan
Kalau bebek yang
ini adanya di daerah Bratang. Sebenernya ada sih cabangnya di Kertajaya, tapi
banyak yang bilang itu nggak asli, saya sendiri belum cek sih, udah su’udzon
duluan. Saya suka bebek bakarnya, ukurannya lumayan gede, dan bumbunya pas.
Yang nggak saya suka di sini tempat parkirnya yang terbatas dan warungnya
yang penuh asap bakar-bakar. Alhasil
saya makan bebek sambil merem melek.
14. Bebek
Sinjay
Bebek goreng
dengan khas sampel pencitnya ini memang nggak di Surabaya, tapi di Pulau Madura
yang jaraknya cuma 15 menit dari jembatan Suramadu. Kalau lagi pengangguran
banget saya suka main ke sini. Kalau bebek ini pasti udah banyak banget yang
tau, soalnya hampir semua dari luar kota yang “berwisata” ke Suramadu pasti
mampirnya ke sini. Asal jangan datang di hari Jumat, soalnya warung ini tutup
setiap hari Jumat.
15. Bebek
Songkem
Bebek ini saya
temukan saat saya dikecewakan oleh Bebek Sinjay. Gara-garanya waktu itu Bebek
Sinjay tutup di hari yang-menurut-kalender-hape-saya bukan hari jumat. Karena sudah
terlanjur sampai di tanah Madura, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba Bebek Songkem
yang letak warungnya masih sejalan sama Bebek Sinjay. Meskipun sedikit lebih
mahal, tapi sesuai lah dengan susahnya memasak bebek ini, karena bebek ini
dikukus tanpa air selama 3 jam dengan daun pisang (atau 5 jam saya lupa, hehe).
Dari semua menu yang saya sebutkan di atas, menu ini yang paling sehat karena
menurut tulisan di warungnya, menu ini rendah kolesterol. Yang membuat saya
kaget, ternyata warung bebek ini sudah buka cabang di Surabaya. Lalu apa
gunanya saya menyeberangi lautan hanya untuk sepotong bebek ini..
Subscribe to:
Posts (Atom)